





| Darunnajah-Multimedia, The real Pesantren Modern |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Saturday, 07 July 2007 09:54 |
|
Arus Globalisasi telah banyak merubah budaya suatu bangsa dalam hitungan dasarwarsa. Dipercaya sebagai pedang bermata dua, Globalisasi dibutuhkan karena dipercaya bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi sedang dilain sisi dikhawatirkan bisa melunturkan nilai-nilai luhur tradisional sebuah bangsa.
Sebagai bangsa yang mempunyai keragaman budaya dan nilai-nilai tradisional tak ternilai, bangsa Indonesia membutuhkan benteng pendidikan yang sesuai dengan karakter masyarakatnya. Masyarakat yang tidak hanya menjadikan kemampuan akademis sebagai ukuran keberhasilan, tetapi juga bisa menjawab tantangan memenuhi kebutuhan akan generasi yang berakal, bermoral dan berhati nurani. Sayangnya, tidak banyak lembaga pendidikan yang bisa menjawab tantangan tersebut. Tumbuh sebagai salah satu dari segelintir pesantren yang lahir di lingkungan perkotaan, Pesantren Darunnajah layaknya sebuah oase nan sejuk ditengah belantara hiruk-pikuk kerasnya kehidupan Megapolitan Jakarta.
Terletak di tengah jantung kehidupan ibukota, Pesantren Darunnajah merupakan lembaga pendidikan yang yang mempunyai posisi unik sebagai pesantren modern. Keunikan tersebut bersumber dari gabungan karakter lembaga modern perkotaan dan komitmen panjang mempertahankan sunah dan tradisi kepesantrenan.
Disatu sisi, unsur modern salah satunya terlihat dari manajemen pengelolaan yang terstruktur. Dipayungi oleh Dewan Nadzir sebagai lembaga tertinggi di organisasi, lembaga ini beranggotakan figur-figur masyarakat yang amanah. Lembaga pemegang amanah wakif ini bertugas mengontrol perwujudan cita-cita Darunnajah layaknya sebuah lembaga legislatif.
Disatu sisi, unsur modern salah satunya terlihat dari manajemen pengelolaan yang terstruktur. Dipayungi oleh Dewan Nadzir sebagai lembaga tertinggi di organisasi, lembaga ini beranggotakan figur-figur masyarakat yang amanah. Lembaga pemegang amanah wakif ini bertugas mengontrol perwujudan cita-cita Darunnajah layaknya sebuah lembaga legislatif. Lembaga ini pulalah yang bertugas memilih pimpinan pesantren setiap lima tahun. Dibantu para asatidz, pimpinan pesantren bertanggung jawab atas jalannya pendidikan di lingkungan pondok pesantren. Sebuah lembaga hukum berbentuk Yayasan Darunnajah dipercaya sebagai pengembang asset wakaf Darunnajah menjadi asset produktif bagi ummat.
Ciri modern lainnya adalah kelengkapan fasilitas dan infrastruktur yang mendukung totalisasi pendidikan terpadu. Keamanan dan kebersihan menjadi kata kunci yang menjamin terciptanya lingkungan kondusif bagi lancarnya proses pembelajaran.
Fasilitas-fasilitas intra-kurrikuler seperti ruang kelas yang nyaman, laboratorium-laboratorium pembelajaran yang lengkap serta fasilitas teknologi komunikasi berbasis internet menjadi salah satu ciri Pesantren Darunnajah. Komputer dan internet merupakan media komunikasi yang lazim diperkenalkan kepada santri sebagai sarana dakwah efektif.
Kelengkapan fasilitas-fasilitas extra kurrikuler pun menjadi sebuah keharusan bagi lembaga yang mengutamakan pembentukan kepribadian santri ini. Sarana olahraga, kesenian, organisasi dan ketrampilan hidup adalah bukti akan komitmen Darunnajah untuk perkengembangan Multiple Intelligence dan kreativitas santri.
Sebagai institusi modern, Darunnajah pun turut aktif didalam menyikapi isu-isu global. Salah satu contohnya adalah dengan menjadi salah satu pelopor program Eco-pesantren di Indonesia. Penanaman pohon di lingkungan kampus dan pengelolaan sampah terpadu yang terus berjalan menjadi bukti nyata akan peran aktif Darunnajah mengurangi dampak dari pemanasan global.
Meskipun begitu, Darunnajah is more than just a boarding school. Darunnajah bukanlah sekedar sekolah berasrama. Tetapi lebih dari itu, Darunnajah lahir dan tumbuh dengan tradisi Pondok Pesantren, benteng pendidikan masyarakat Islam yang lahir melalui rahim budaya bangsa Indonesia yang juga merupakan agent of change didalam masyarakat. Keunggulan substansial pesantren berasal dari sistem pendidikan yang terfokus di pembentukan kepribadian (character building) santri. Didalam sistem tersebut, santri dibimbing untuk menumbuh kembangkan tiga kemampuan utama, yaitu intelektual, moral dan spiritual, sesuatu yang terlupakan di dalam pola pendidikan nasional disekolah-sekolah umum termasuk sekolah berasrama.
Pendidikan akhlak berdasarkan ajaran agama Islam menjadi inti pendidikan di Darunnajah. Hal ini dimungkinkan mengingat sistem ini mewajibkan para siswa untuk menetap di lingkungan yang dibentuk dengan dasar dasar pendidikan kepemimpinan yang dicontohkan oleh pimpinan sebagai figur teladan sentral.
Sistem pengajaran yang diterapkan merupakan gabungan dari system yang diadopsi dari Kuliyatul Mu’allimin Islamiyah Pondok Modern Gontor dan kurikulum departemen pendidikan Indonesia. Ini terbukti tidak sekedar menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga melahirkan pemimpin disegala bidang kehidupan yang tidak hanya mempunyai kapasitas keilmuan tetapi juga mengedepankan moral didalam berkarya.
Ciri lainnya adalah independensi didalam mengambil kebijakan. Hal tersebut merupakan konsekwensi dari kemandirian finansial Darunnajah. Investasi akhirat dan keikhlasan merupakan modal terbesar yang mengalir di urat nadi organisasi sejak era perintisan. Kedermawanan wakif, KH Abdul Manaf Mukhayyar menjadi teladan abadi yang menginspirasi perjuangan generasi penerus.
Sebagai konsekuensinya, pengembangan bidang usahapun menjadi salah satu program yang menjadi prioritas untuk menjaga kestabilan ekonomi lembaga. Bidang ini pula yang diharapkan menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan para pejuang pendidikan di lembaga ini. Bermacam sektor usaha dikelola langsung oleh lembaga secara profesional, mulai dari sektor retail, pengadaan servis, agrobisnis, hingga industri kreatif.
Secara umum, tiga fungsi utama Pesantren Darunnajah adalah sebagai lembaga pendidikan yang melakukan transfer ilmu-ilmu agama (tafaquh fiddin) dan nilai-nilai Islam (Islamic values); kedua, fungsi pesantren sebagi lembaga keagamaan yang melakukan kontrol social kemasyarakatan (social control); dan ketiga, fungsi pesantren sebagai lembaga keagamaan yang melakukan pengembangan masyarakat (community development).
Keberlangsungan fungsi ini dipelihara dengan menggunakan prinsip perawatan akan tradisi-tradsi yang baik dan sekaligus mengadaptasi perkembangan keilmuan baru yang lebih baik (al-muhafazah ‘ala al-qodim al –salih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah)
Dengan memegang prinsip ini, Pesantren Darunnajah telah dan akan terus berperan sebagai salah satu agen perubahan didalam mendidik generasi masa depan Indonesia untuk menghadapi arus globalisasi.
|
| Last Updated on Friday, 10 April 2009 15:53 |