Serba serbi Kunjungan Guru Inggris

James Findlay and Sharon Dunning terkejut senang melihat nama mereka tertulis besar di banner yang dipasang di gerbang Ponpes Annur Darunnajah 8. Spontan, mereka meminta difoto dibawah banner tersebut berserta pimpinan dan asatidz yang menyambut kedatangan mereka. Sejurus kemudian, setelah berada didalam mini hall Pesantren yang baru, lagi-lagi mereka terkejut melihat nama mereka tertulis di background ruangan. Agak sedikit heran karena mirip sekali dengan yang di depan. Ustadz Dedy, pimpinan melihat keheranan di wajah Sharon dan berkata; “I tell you secret,  this banner is the banner we put in the gate. Just as you passed the gate, we ask the students to run n put it in this room”. Sharon pun tersenyum lepas dan menjawab sambil tertawa; “I knew it, I saw them running with the banner”.

Penuh spontanitas, itulah yang terjadi didalam kunjungan dua tamu “bule” tersebut.

Spontanitas lain yang tak kalah menghebohkan adalah ketika saatnya penampilan suguhan dari tim Marawis DN8 untuk mereka. Melihat rancaknya musik yang disuguhkan, salah satu ustadz Cidokom menantang santri dan sang tamu untuk ikut mengiringi dengan dansa ala Arab, roqqosh. Gayung pun bersambut, melihat keberanian santri-santri bergoyang Arab, kedua tamu-pun turut ikut ‘melantai’ di tengah ruangan diiringi oleh meriah tepuk tangan para santri yang bersuka cita melihat tingkah laku mereka.

James dan Sharon adalah dua guru asal belahan dunia utara yang pertama mengunjungi Bumi Cidokom. Mereka terpesona melihat hijau-nya alam di lahan pesantren dan sekitarnya. Dijamu di teras rumah pimpinan yang terbuka sambil memandang derasnya hujan yang mengiringi kedatangan mereka, mereka pun tak henti-henti menyatakan kecemburuan mereka terhadap alam dan cuaca yang sangat bersahabat di lingkungan tersebut. Maklumlah, sinar matahari, hangatnya cuaca adalah sesuatu yang susah mereka dapatkan di negeri asal mereka.

Dua pohon durian yang tegak berdiri tepat didepan rumah pimpinan pun seakan menyambut kedatangan mereka. Pohon yang biasanya hanya berbuah tak lebih dari hitungan jari, tahun ini memproduksi ratusan buah yang tak lama lagi bisa dinikmati oleh semua santri. Walhasil, dua guru Inggris yang sebelumnya belum pernah melihat seumur hidupnya ada buah sebesar itu-pun meminta khusus untuk mencipipi “King of Fruit” tersebut. Hasilnya? yummii.. mereka pun sampai ikut-ikutan menjilat jari-jemari mereka setelah mencicipi buah tersebut.