Pemimpin yang efektif sering memberdayakan “cerita” dalam bentuk dongeng sejak zaman dahulu kala.
Sebelum era tulisan, pemimpin sebuah kaum selalu mengumpulkan anggota sukunya untuk menuturkan kisah dan legenda-legenda yang hidup dalam kaum tersebut. Kisah pahlawan mereka. Kisah keberanian mereka. Kisah perjuangan mereka. Untuk menginspirasi generasi selanjutnya.
Didalam dunia pendidikan pesantren, proses ini masih dilakukan hingga sekarang. Kami menyebutnya dengan “Transformasi nilai”.
Pengasuh pondok – tidak harus Kiai- dan pembantu-pembantunya (Asatidz serta pengelola Organisasi Santri) secara berkala mengumpulkan santri-santri, bisa di ruang perkumpulan, di kamar, di masjid atau di ruang terbuka disekeliling api unggun dan disetiap kesempatan, untuk mentransformasi nilai pendidikan ke dalam kepala dan hati mereka.
Dikesempatan inilah mereka menyampaikan kisah-kisah tauladan, kisah pengorbanan, perjuangan dan nilai nilai yang menjadi dasar setiap aktivitas yang dijalani setiap penghuni pondok.
“Anda bisa ditunjuk menjadi manajer atau komandan, tetapi Anda tidak akan bisa menjadi pemimpin sampai penunjukan Anda disetujui oleh hati dan akal mereka yang Anda pimpin

